Kamis, 17 Maret 2022

Di Balik Pesona Laskar Pelangi

        


Perpustakaan sekolah merupakan salah satu tempat siswa dan guru untuk membaca dan meminjam buku. Tak hanya itu saja, kita juga bisa belajar dan berdiskusi di sana. Berbicara mengenai perpustakaan sekolah, pastinya banyak jenis buku bisa kita temukan di sana. Biasanya buku-buku di perpustakan khususnya buku novel yang baik dan menarik itu pasti sering dibaca oleh kebanyakan siswa dan guru. Seperti kita ketahui bersama, novel merupakan salah satu jenis buku fiksi yang isinya menarik dan menghibur pembaca. 

         Beberapa novel populer bahkan ada yang difilmkan, salah satunya adalah novel laskar pelangi. Film Laskar Pelangi lahir dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata yang difilmkan oleh sutradara Riri Riza.  Laskar Pelangi merupakan novel perdana Andrea Hirata yang bercerita mengenai kehidupan 10 anak di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Mereka berasal dari keluarga miskin yang menempuh pendidikan di suatu sekolah yang penuh dengan keterbatasan. Namun, keterbatasan tidak membuat anak-anak putus asa, justru menjadi pendorong untuk melakukan hal yang lebih baik. Sekolah Muhammadiyah di desa tersebut terancam dibubarkan karena saat itu muridnya hanya berjumlah 9 anak. Saat kepala sekolah akan berpidato, datang seorang ibu mendaftarkan anaknya sehingga sekolah tetap eksis.

        Berawal dari sinilah cerita dimulai. Pertama-tama, pembagian tempat duduk di kelas. Lalu, anak-anak saling memperkenalkan diri. Masing-masing anak memiliki karakter dan tingkah yang khas. Mereka bernama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani dan Harun. Mereka adalah Laskar Pelangi. Julukan tersebut diberikan oleh Bu Muslimah karena mereka menyukai pelangi. Nama Laskar Pelangi ini pernah membuat nama sekolahnya menjadi harum. Beberapa di antaranya adalah kejeniusan Lintang yang ingin mengalahkan seorang guru bernama Drs. Zulfikar dan akhirnya menang dalam lomba cerdas cermat. Kemudian, Mahar yang dipojokkan karena senang dengan okultisme ternyata berhasil memenangkan karnaval 17 Agustus. Laskar Pelangi selalu melewati hari-hari yang menyenangkan, menangis dan tertawa bersama-sama. Cerita persahabatan sepuluh anak Laskar Pelangi berakhir sedih. Ayah Lintang meninggal dunia sehingga membuat Einstein kecil itu harus mengalami putus sekolah. Kemudian, melangkah 12 tahun ke depan yang menceritakan Ikal pulang kampung usai berjuang di luar pulau. Kisah-kisah pada novel dikemas dengan indah sehingga membuat pembaca terharu. Secara emosi, mampu merasakan semangat yang membara dari tokoh Laskar Pelangi. 

        


Bagi saya pribadi, novel laskar pelangi memberikan kesan yang mendalam di hati saya. Terbukti meski sudah pernah membaca novel tersebut, saya tetap tidak bosan untuk membacanya kembali. Bagi yang penasaran dengan novel Laskar Pelangi, bisa datang ke perpustakaan SMK Tunas Bangsa Tawangsari. 


SMK Tunas Bangsa Tawangsari, 18 Maret 2022



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Kami turun tujuannya memang untuk protes kepada pemain dan manajemen Arema FC, kenapa Arema FC bisa kalah? Padahal selama 23 tahun sejarahn...